3 Alasan mengapa SBR005 merupakan alternatif investasi yang menarik di tahun 2019

Memasuki tahun 2019, Kementerian Keuangan telah mengumumkan besaran imbal hasil Saving Bond Ritel seri 005 (SBR005) pada hari ini tanggal 9 Januari 2019. Surat Utang Negara yang dikhususkan untuk investor perorangan domestik tersebut ditawarkan oleh Kementerian Keuangan dengan kupon sebesar 8,15% per tahun dengan kupon minimal yang bersifat floating with floor.  Kupon minimal artinya adalah ketika terjadi adjustment terhadap suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate berupa penurunan suku bunga, maka kupon yang dibayarkan ialah kupon saat pertama diumumkan yakni sebesar 8,15% dengan komposisi BI 7 Day Reverse Repo Rate + spread sebesar 215 basis poin (bps). SBR menjadi opsi yang baik ditengah ketidakpastian global dan kondisi geopolitik yang belum kondusif serta ekspektasi The Fed yang akan menaikkan suku bunga, hal hal tersebut dapat memberikan sentimen negatif dan shock bagi emerging markets seperti Indonesia dan imbasnya bagi pasar modal ialah pertumbuhan yang kurang menarik dan investor asing akan cenderung berhati-hati untuk menaruh hot money nya di portofolio Indonesia dan. Oleh karena itu, penulis setidaknya mempunyai alasan kuat mengapa SBR005 menjadi alternatif investasi yang patut dilirik oleh investor domestik.

  1. Imbal Hasil Kompetitif

Imbal hasil yang ditawarkan SBR005 tergolong cukup besar yakni sebesar minimal 8,15% per tahun dan kupon bersifat mengambang. Kendati spread yang ditawarkan oleh Kementerian Keuangan mengalami penurunan dibanding seri terdahulunya, SBR004, yang mana sebesar 255 bps, SBR005 yang memberikan spread 215 bps penulis yakini tetap menarik bagi investor karena penurunan spread sebanyak 40 basis poin tersebut masih lebih tinggi dibanding instrumen investasi lainnya seperti Deposito, Reksa Dana Pasar Uang, hingga Reksa Dana Pendapatan Tetap.

rdpt
Sumber: rudiyanto.blog, Infovesta (diolah)

Dari data diatas, terlihat bahwa rata-rata return Reksa Dana Pendapatan Tetap bergerak bervariasi, namun hanya 5 kali saja Reksa Dana Pendapatan Tetap mencatatkan pertumbuhan dua digit yakni pada tahun 2006,2009,2010,2011,dan 2017, return Reksa Dana Pendapatan Tetap tahun lalu tercatat mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,20%  hal ini menandakan bahwa risiko investasi pada Reksa Dana Pendapatan Tetap cukup besar terlebih ditengah ketidakpastian dan geopolitik yang tengah memanas dan tensi perang dagang antara dua negara digdaya yang belum kunjung menemui titik tengah, dari semua alasan tersebut SBR005 menjadi instrumen investasi yang menarik bagi investor domestik dengan profil risiko konservatif yang menghindari risiko namun tetap ingin menikmati imbal hasil yang besar. Selain itu, pajak yang dikenakan terhadap kupon SBR005 tergolong lebih rendah dibanding deposito yang dikenai pajak 20%, kupon SBR005 hanya dikenakan pajak sebesar 15% final.

  1. Risiko Rendah

Berinvestasi di SBR005 tidak hanya mendapatkan imbal hasil yang kompetitif, namun risiko akan fluktuasi harga dan penurunan tingkat kupon tidak akan dialami oleh investor yang membeli instrumen investasi ini. Karena meskipun kupon bersifat mengambang, namun Kementerian Keuangan menerapkan kupon minimal yang akan dibayarkan yakni sebesar 8,15% per tahun. Singkatnya, investor sudah pasti akan mendapatkan imbal hasil sebesar 8,15% dan potensi kenaikan pembayaran kupon apabila suku bunga BI 7 Day Reverse Repo Rate mengalami kenaikan. Oleh karena itu, instrumen investasi ini sangat cocok bagi investor pemula yang ingin mulai untuk investasi dengan dana terbatas karena SBR005 bisa dimiliki hanya dengan minimum pembelian sebesar satu juta rupiah saja. Fasilitas early redemption yang diberikan oleh Kementerian Keuangan juga membuat instrumen investasi ini relatif aman dan liquid, tidak seperti obligasi korporasi yang cenderung tidak likuid diperdagangkan di pasar sekunder.

  1. Non-Tradeable dengan Kupon Minimal

SBR005 memiliki karakteristik tidak dapat diperdagangkan dan hal tersebut membuat instrumen investasi ini aman terhadap potensi capital loss dan apabila dikatakan surat utang, maka penulis lebih suka menyebutnya menyerupai tabungan atau deposito, namun dengan imbal hasil yang lebih besar dan pajak yang lebih murah. How cool is that?. Kupon minimal yang diberikan oleh Kementerian Keuangan juga menjadi kemewahan bagi investor ritel karena meskipun kupon bersifat mengambang, namun kupon yang ditawarkan saat pertama kali diumumkan akan menjadi floor nya dalam artian pembayaran kupon minimal sebesar 8,15%.

  1. Membentuk Mindset Sadar Investasi

Alasan terakhir tidak membahas tentang keunggulan dari SBR005 namun penulis lebih menekankan untuk membentuk mindset dan budaya Invest first, spend later. Hal ini menjadi penting dan apabila diterapkan secara disiplin dan konsisten penulis yakin akan memberikan hasil yang mengejutkan. Mendahulukan investasi dibanding konsumsi juga akan membuat kita untuk menerapkan pola hidup hemat dan tidak terseret dalam lingkaran hedonisme karena apabila sudah dialokasikan untuk investasi, maka seolah-olah kita tidak mempunyai cukup uang, padahal uang tersebut secara mengejutkan terus bertumbuh setiap tahun sebesar 8,15% apabila dibelikan SBR005. Sounds fun, eh?

Secara kesimpulan, penulis merekomendasikan SBR005 ini STRONG BUY meskipun spread yang ditawarkan lebih rendah dibanding seri terdahulunya, namun SBR005 tetap menjadi instrumen investasi yang patut dimiliki terlebih bagi investor baru atau pemula yang ingin memulai untuk investasi tanpa harus pusing memikirkan akan risiko investasi karena menurut penulis bisa dikatakan 99% SBR005 bersifat risk free.

Membaiknya tren harga batubara 2018, PTBA masih menarik?

Setelah mengalami masa sulit ketika harga batubara jatuh titik terendah pad awal tahun 2016 yakni dikisaran $49 per metric ton (PMT), perlahan komoditas yang menjadi andalan Indonesia ini merangkak naik hingga puncaknya pada tahun 2018 merujuk data KemenESDM, Harga Batubara Acuan (HBA) pada bulan Agustus 2018 sudah di angka $104,65 PMT. Tentu hal ini berimbas pada kinerja emiten batubara di Indonesia seperti Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), Indika Energy (INDY) dan juga Bukit Asam (PTBA). Euforia telah usai, dan harga saham emiten batubara pada Agustus 2018 beberapa sudah di adjust oleh Mr. Market dan mencapai fair value nya. Pertanyaan berikutnya adalah, masih layak di koleksikah?

Menurut penulis sendiri mengingat saham PTBA merupakan saham siklikal penulis tidak menganjurkan untuk hold saham PTBA tidak lebih dari 2 tahun, jika dan hanya jika harga batubara newcastle sudah turun dibawah <$60 PMT, maka emiten batubara kurang menarik. Lalu hal-hal apa saja yang menarik dari saham PTBA ini? Setidaknya penulis punya 3 alasan mengapa saham PTBA untuk selanjutnya dapat menjadi pertimbangan pembaca.

Selayang Pandang PTBA

PTBA secara umum menjalankan bisnis pertambangan dan mengoperasikan tambang batubara di Tanjung Enim (Sumatera Selatan), Ombilin (Sumatera Barat), Peranap (Riau) dan Kalimantan Timur yang meliputi eksplorasi, pengolahan, pemurnian, pengangkutan dan perdagangan terutama batubara, yang kemudian hasil produksi tersebut diperdagangkan dengan pasar baik didalam maupun di luar negeri. Selain itu PTBA juga mengusahakan dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan jasa-jasa lainnya seperti konsultasi dan rekayasa terkait batubara dan hasil olahannya.

Melalui anak usahanya PT Bukit Energi Investama, PTBA menjalankan proyek PLTU diantaranya Tanjung Enim Sumatera Selatan (3×10 MW), Pelabuhan Tarahan (2×8 MW), Mulut Tambang Lahat (2×110 MW) sejalan dengan program pemerintah 35000 MW untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh Indonesia, dan tentunya hal ini menarik karena PTBA lebih kurang mengoperasikan total pembangkit listrik hingga 2400 MW yang tersebar di Indonesia.

Hingga Semester 1 2018,  volume penjualan batubara PTBA mencapai 12.22 juta ton dan tumbuh 7.6% year on year dengan proyeksi penjualan hingga akhir tahun mencapai 25.88 juta ton.

Penguatan Infrastruktur, Langkah Strategis PTBA

Tahun 2015, PTBA berhasil meresmikan infrastruktur baru demi meningkatkan kinerja operasional tambang batubara mereka, yaitu dengan meresmikan dermaga di Pelabuhan Tarahan dengan kapasitas sandar 210.000 DWT (capesize), hingga saat ini Pelabuhan Tarahan memiliki tiga dermaga dengan kapasitas total 300.000 DWT [10.000 DWT tongkang, 80.000 DWT (panamax), dan 210.000 DWT (capesize)]

PTBA
Dermaga baru, menambah kapasitas pelabuhan tarahan

PTBA dalam hal pengangkutan batubara juga bekerjasama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan, Lampung dan Dermaga Kertapati (Palembang). Selain peningkatan kapasitas, PTBA juga melakukan penambahan fasilitas alat muat ke kapal (ship loader) dengan kapasitas 6.000 ton per jam sehingga kapal ukuran 210.000 DWT dapat terisi penuh dalam kurun waktu kurang dari tiga hari. Dan juga dibangun fasilitas pembongkaran batubara dari gerbong kereta api sehingga mempercepat proses pembongkarannya. Batubara dari lokasi tambang di Tanjung Enim diangkut ke Pelabuhan Tarahan dengan kereta api dengan kapasitas 60 gerbong dengan masing-masing gerbong memuat 50 ton batubara.

Penambahan kapasitas di Pelabuhan Tarahan akan meningkatkan daya kompetitif penjualan batubara PTBA di pasar domestik maupun produsen utama dari Australia. Konsumen akan dilayani PTBA dengan kapal berkapasitas besar sehingga akan menekan biaya transportasi batubara yang konsumen beli.

PTBA di Pusaran DMO Batubara

Pemerintah melalui PLN ditengah musim pemilu dan sangat kental nuansa politis walaupun keadaan dan lingkungan sudah sangat mendukung untuk naiknya tarif listrik rumahan karena semakin tingginya harga acuan batubara, presiden Jokowi tidak ingin adanya kenaikan tarif listrik demi menjaga elektabilitas. Hal ini tentu membuat galau PLN karena bahan baku mereka dalam membangkitkan listrik tentu dari batubara, dan apabila harganya melambung tinggi maka untuk mempertahankan biaya dan beban, tarif listrik harus dinaikkan. Tetapi hengki pengki ala Pemerintah dan deal-deal politik setuju agar tarif listrik rumahan tidak dinaikkan dan caranya adalah dengan menerbitkan Domestic Market Obligation (DMO) Batubara, yaitu kewajiban emiten batubara di Indonesia untuk menyuplai batubara murah (dibawah harga pasar) ke PLN.  Jika ditanya siapakah yang akan jadi korban utama untuk menyuplai batubara murah bagi PLN, maka tidak lain tidak bukan adalah PT Bukit Asam, Tbk (Persero) selaku Badan Usaha Milik Negara.

PTBA lagi
DMO Batubara bagi PTBA tidak terlalu signifikan

Dapat dilihat pada kinerja keuangan PTBA Q218, meskipun harga batubara acuan pada tahun 2018 berkisar di $106 PMT yang notabene cenderung lebih tinggi dari Q217, tapi pendapatan PTBA justru malah lebih rendah. Tetapi hal tersebut bukan hal serius bagi PTBA karena kontribusi pendapatan PTBA pada PLN hanya 28,42% dan sisanya tentu sumbangan dari klien utama PTBA seperti Noble Resources dan lain-lain.

PLN tetap menjadi salah satu mitra dagang terbesar PTBA dalam pasar domestik selain PT Indonesia Power, karena sebanyak 52.1% penjualan PTBA di pasar domestik dan sisanya diekspor ke China dan India sebagai dua besar negara tujuan ekspor PTBA.

PTBA dan Holding Inalum, What next?

 Terakhir adalah bagaimana Pemerintah menginginkan Holding BUMN Pertambangan dengan PT Inalum menjadi holdingnya membawahi Aneka Tambang (ANTM), PT Timah (TINS), dan PT Bukit Asam (PTBA) masing-masing dengan kepemilikan 65%. Dengan ini maka status ANTM TINS dan PTBA sebagai BUMN telah gugur karena 65% sahamnya dimiliki oleh PT Inalum. Lalu, kedepan yang jadi pertanyaan apakah hal ini menguntungkan PTBA atau justru malah merugikan? Menurut penulis tentu akan berbeda ketika PTBA sebagai BUMN dan PTBA sebagai subsidiary Inalum selaku Holding, yang mana perlakuan pemerintah tidak akan sama seperti PTBA sebagai BUMN (prioritas proyek dll) namun penulis cukup yakin dalam jangka panjang akan menguntungkan PTBA terlebih Inalum akan membawahi Freeport Indonesia sebanyak 51% tentu hal ini dapat dimanfaatkan PTBA untuk transfer knowledge terkait pertambangan.

Kinerja Keuangan PTBA

Terakhir ialah bagaimana kinerja keuangan PTBA sepanjang Semester 1 2018 secara year on year menggunakan pendekatan Value-Growth Investing sesuai ajaran guru besar Value Investor.

PTBA we
Kinerja PTBA Q218 YoY

PTBA berhasil membukukan kinerja menarik dengan peningkatan Gross Profit Margin sebesar 42% dari sebelumnya 37%, Operating Profit Margin sebesar 33% dari sebelumnya 28% dan Net Profit Margin sebesar 24% dari sebelumnya 19%. Hal ini tentu positif seiring meningkatnya harga jual batubara dan menandakan bahwa laba bersih yang dibukukan inline dengan bisnis utamanya yaitu batubara.

PTBAa
PTBA vs Global & Local Peers

Hal menarik lainnya ialah dari sisi kinerja, PTBA merupakan perusahaan batubara dengan kinerja super kinclong di Indonesia jauh mengungguli peersnya seperti ADRO, ITMG, HRUM hingga BUMI. Meskipun bukan produsen batubara nomer satu di Indonesia, namun PTBA tetap menjadi yang terbaik dari sisi kinerja menandakan bahwa perusahaan ini adalah perusahaan SUPER dan SEHAT dengan manajemen yang efisien (biaya maupun kinerja) sehingga Net Profit Margin PTBA bisa dipertahankan dilevel 24%.

Rating Emiten: A

Agee Fonzi Miradz.

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan beli, melainkan hanya berupa berbagi informasi kepada pembaca. Segala keputusan Beli/Jual ada di tangan pembaca sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca tulisan ini.

Berlayar ke Utara bersama MBSS

Setelah penulis membahas dua emiten yang kiranya mempunyai potensi upside puluhan persen tahun ini, yaitu $MEDC dan $TKIM berikutnya penulis akan mengulas emiten favorit penulis lainnya dari sektor komoditas, adalah PT Mitrabahtera Segara Sejati, Tbk (MBSS) yang mana merupakan anak usaha dari Indika Group. Setidaknya penulis mempunyai 3 alasan kuat mengapa penulis sangat percaya emiten ini merupakan mutiara hitam dengan harga saat ini (Rp 585/lembar) adalah harga akumulasi terbaik untuk mulai mengumpulkan MBSS. So, let’s check this out!

Selayang Pandang MBSS

MBSS merupakan salah satu perusahaan jasa logistik laut dan transhipment TERBESAR di Indonesia yang menyediakan solusi logistik dan transportasi laut terpadu untuk transhipment Batubara. Segmen usaha MBSS terbagi menjadi tiga pokok besar terdiri dari material handling, barging, dan jasa floating crane. Tentu saja dari ketiga segmen usaha MBSS tersebut, jasa barging menjadi penyumbang terbesar pendapatan MBSS seiring dengan membaiknya indeks batubara Newcastle yang bullish sepanjang tahun 2017 dan akan terus meningkat seiring dengan tingginya permintaan batubara oleh China pada musim dingin yang mana penulis yakini akan mengerek kinerja MBSS.

MBSSJasa Barging menjadi pengungkit utama pendapatan MBSS sebesar 73,6%

Perlu diketahui bahwa MBSS merupakan pemilik armada barging (barging fleet) terbesar di Indonesia dengan total 69 set dan kapasitas barging mencapai 580.000 ton di akhir tahun 2017. Tentu saja hal ini sejalan dengan iklim usaha batubara yang kian menggeliat, tambang-tambang batubara yang dulu tidak beroperasi kini mulai aktif kembali dan hal ini positif bagi kinerja MBSS. Kinerja tahun 2017 MBSS bisa dikatakan tidak begitu baik namun juga tidak buruk-buruk sekali mengingat laba bersih MBSS sangat sensitif sekali dengan waktu docking serta cuaca buruk, dan tentu saja hal ini akan berimbas pada kinerja MBSS. Namun waktu docking MBSS di tahun 2018 diprediksi akan menurun drastis karena sebagian besar aset telah menyelesaikan persyaratan siklus docking lima tahunan sehingga diharapkan armada MBSS akan mampu mencapai utilisasi 85% pada tahun ini.

Kontrak Jangka Panjang dan Klien Bonafid

MBSS sebagai anak usaha Indika Group tentu akan memperoleh banyak benefit dari nama besar induknya yaitu Indika Energy, namun hal tersebut tidak berdampak terlalu signifikan lebih karena reputasi MBSS sebagai solusi atas kegiatan dan usaha jasa logistik laut dan transhipment terbaik di Indonesia. Sejauh ini, MBSS telah mengantongi kontrak jangka pendek dengan beberapa klien besar sebut saja PT Adaro Indonesia hingga 31 Oktober 2018, Mitra Maju Sukses (MMS) hingga 31 Maret 2020, Berau Coal yang diperpanjang hingga 30 Juni 2022, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAG) hingga 30 Juni 2018, PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) hingga 31 Agustus 2018 dan kontrak-kontrak lainnya seperti jasa floating crane dengan Kideco selaku anak usaha Indika, jasa pelayaran kepada PT Cotrans Asia dan CSTS Joint Operation

MBSS adaroPendapatan dari klien utama MBSS 2016 vs 2017

Secara keseluruhan pendapatan MBSS tahun 2016 vs 2017 memang tidak begitu memuaskan sebab kinerja barging mengalami penurunan dari segi volume pengangkutan serta tingkat utilisasi armada yang tidak begitu bagus dikarenakan waktu docking yang tidak efisien. Namun 2017 adalah waktu terakhir dalam siklus 5 tahunan waktu docking dan diharapkan pada tahun ini kinerja MBSS dapat terkerek seiring dengan aktivitas tambang batubara yang kian menggeliat.

MBSS dan Proyek-Proyek Indika Group

Sekali lagi penulis mengingati kepada pembaca bahwa MBSS tergabung sebagai anak usaha Indika Group yang mana ketika INDY mendapatkan kontrak JUMBO dengan nilai FANTASTIS maka bukan tidak mungkin MBSS akan kecipratan “tugas tambahan” (Bukti nyatanya ialah KIDECO sebagai subsidiary INDIKA ENERGY yang menggunakan jasa BARGING KAPAL MBSS) untuk membantu menyelesaikan beberapa proyek tersebut. Yang paling baru adalah pembangunan fuel storage (penyimpanan bahan bakar) kerjasama Indika Energy dengan ExxonMobil di Kalimantan dengan nilai investasi mencapai $108 juta !

indika exxon
Proyek JUMBO Indika Group positif bagi MBSS

Namun dari semua itu yang menarik perhatian penulis ialah bagaimana pemerintah begitu bernafsu membangun Pembangkit Listrik 35.000 MW yang mana sangat amat membutuhkan batubara dalam volume besar ! yang menjadi perhatian adalah bagaimana proyek ini merupakan mega proyek pemerintah yang dari tahap perencanaan hingga selesai prosesnya sangat amat berbeda dengan memesan kwetiau goreng yang dalam hitungan menit selesai, kiranya penulis taksir proyek ini akan diselesaikan dalam 5-6 tahun dan tentu kita sudah dapat benang merahnya, bukan? Yup proyek Pembangkit Listrik 35.000 MW merupakan proyek jangka panjang dan tentu emiten-emiten batubara dan subsidiary akan berdampak positif akan hal ini.

Fundamental – Bandarmologi MBSS

Terakhir yang dapat penulis sampaikan ialah mengenai Analisis Fundamental, Teknikal, serta Bandarmologi yang tentu sangat ditunggu-tunggu dan paling menarik untuk diikuti dan diharapkan dapat memperkuat keputusan pembaca agar semakin yakin sebelum membeli saham MBSS. Secara Fundamental, MBSS di harga penutupan 11/05/2018 dihargai sebesar Rp 585/lembar oleh pasar dengan PER 3.34x PBV 0.42 dan Kapitalisasi Pasar Rp 1.04 T. Cukup undervalue dan sudah layak diakumulasi mengingat perusahaan ini pada kuartal 1 2018 masih merugi, kinerja keuangan kuartal 1 2018 juga tidak terlalu baik namun penulis yakin cepat atau lambat MBSS akan kembali membukukan laba setidaknya ada dua jaminan kuat: bullishnya harga batubara dan docking 5 tahunan kapal telah selesai.

mbss lagi
Pendapatan Usaha MBSS 2017 vs 2018

Kinerja MBSS pada Kuartal 1 2018 membukukan pendapatan yang lebih rendah secara year on year namun yang menarik adalah manajemen MBSS yang telah mendiversifikasikan portofolionya pada jasa konsultasi meskipun hanya menyumbang 0.56% saja dari total pendapatan usaha MBSS pada tahun 2018, tapi setidaknya untuk permulaan hal ini cukup menarik. Sektor jasa Tunda dan Tongkang masih menopang pendapatan usaha MBSS dengan kontribusi sebesar $10.423.531 atau sekitar 72.53% dari total pendapatan usaha dan penulis melihat kuartal selanjutnya tentu akan lebih tinggi lagi mengingat masalah-masalah utama MBSS sedikit demi sedikit sudah selesai di tahun-tahun sebelumnya.

Terakhir adalah Bandarmologi MBSS. Sengaja penulis taruh paling akhir karena jangan sampai kalian membeli MBSS hanya karena investor kakap atau sering disebut Warren Buffett nya Indonesia, Lo Kheng Hong membeli saham ini juga. Ketahuilah hal tersebut tidak ada beda dengan berjudi, jadilah investor cerdas dan jangan sampai kita membeli kucing dalam karung oleh karena itu pahami bisnisnya, bagaimana perusahaan menghasilkan laba, dan lain-lain. Yup, Lo Kheng Hong membeli saham MBSS sekitar tahun 2016 itulah sebabnya di Annual Report MBSS muncul nama Lo Kheng Hong sebagai major shareholder dengan kepemilikan 2.74% atau sekitar 48.000.000 lembar saham !

Screenshot_20180328-053905_1Lo Kheng Hong di MBSS 2016

Tidak sampai disitu, sepanjang tahun 2017 Lo Kheng Hong juga tetap mengakumulasi saham MBSS hingga akhir tahun 2017 kepemilikan Lo Kheng Hong di MBSS naik menjadi 4.5%.

Untitled
Lo Kheng Hong di MBSS 2017

Lo Kheng Hong membeli MBSS pada tahun 2016 dan yang WAJIB diketahui oleh pembaca adalah beliau merupakan seorang Value Investor sejati dan berguru pada Warren Buffett so bukan tidak mungkin Lo Kheng Hong akan hold lama di MBSS sampai perusahaan ini mengalami turnaround. Saran penulis ketika ingin mengakumulasi saham ini pastikan timeframe dan sesuaikan gaya investasi apakah cocok untuk buy and hold dalam jangka panjang.

teknikal
Teknikal MBSS

Clue terakhir dari penulis ialah tahun 2016 sampai 2017 pergerakan harga MBSS sideways disekitar 200 hingga 400 per lembar baru pada kuartal 3 2017 seperti pada chart diatas MBSS lompat kodok hingga diatas Rp 800 per lembar sebelum akhirnya kembali mengalami koreksi. Penulis hanya ingin menyampaikan bahwa ketika saat ini mulai mengakumulasi saham MBSS maka harga rata-rata yang diperoleh ialah tidak jauh berbeda dengan harga dimana saat Lo Kheng Hong mulai mengakumulasi saham MBSS yaitu Rp 200 – 400 per lembar! Tidak ada ruginya ketika mulai mengakumulasi di harga Rp 585 per lembar maka ketika harga jatuh ke bottom Rp 400 per lembar akan mengalami loss 31.60% dan ketika harga naik mendekati resistance di Rp 900 perlembar maka potensi upside sebesar 53.57%, sangat menarik.

Agee Fonzi Miradz.

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan beli, melainkan hanya berupa berbagi informasi kepada pembaca. Segala keputusan Beli/Jual ada di tangan pembaca sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca tulisan ini.

Medco Energi, ajang pembuktian Korporat menjadi “Pride of Nation”

PT Medco Energi Internasional, Tbk (IDX:MEDC) merupakan perusahaan milik anak negeri (Panigoro Group) yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas, emiten ini menjadi salah satu emiten favorit penulis setidaknya sejak awal tahun 2018 penulis sudah meneropong pergerakan saham ini karena kinerja 9M2017 yang sangat baik dan turnaround dari kinerja tahun lalu membuat penulis terus melakukan akumulasi saham Medco. Menariknya adalah sejak awal tahun saham Medco terus melanjutkan tren kenaikan kendati tahun 2017 sudah naik hingga 200%.

WhatsApp Image 2018-04-08 at 12.30.45 PM
Retracement sejenak Medco, untuk melanjutkan kenaikan yang fantastis

Setelah mencapai harga puncak di Rp1575/lembar, Saham Medco memasuki fase downtrend. Penulis melihat hal ini adalah sebuah peluang untuk terus melakukan akumulasi, karena menurut penulis setidaknya ada 5 poin penting mengapa tahun ini saham dengan kode emiten MEDC ini memiliki potensi untuk melanjutkan tren naiknya.

Diversifikasi Bisnis – Pertambangan

MEDC mempunyai blok utama yang menjadi core business Medco Energi Internasional antara lain blok Senoro-Toili, Rimau, South Sumatera, Lematang, Tarakan, dan terakhir ialah South Natuna Sea Block B, blok ini dimiliki oleh MEDC setelah aksi korporasi strategis dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang menjadi Operator dengan hak partisipasi 40% di PSC South Natuna Sea Block B dan fasilitas penerimaan gas yang berada di Singapura, akuisisi fenomenal ini juga memperoleh penghargaan sebagai “The APAC Deal of The Year 2016”.

Tidak sampai disana, MEDC pada tahun 2016 juga melakukan aksi korporasi super strategis demi mendiversifikasi lini bisnisnya dari eksplorasi minyak dan gas menjadi bisnis Pertambangan melalui PT Amman Mineral Investama (AMIV) dengan cara mengakuisisi 50% saham PT AMIV, dimana PT AMIV memiliki 82,20% saham Newmont atau sekarang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Langkah ini tentu sangat positif mengingat harga crude oil yang uncertain ditengah-tengah isu perang dagang yang bisa membuat harga oil kembali jatuh dibawah $58/barrel, MEDC melakukan diversifikasi untuk menjaga kinerja perusahaan. PT AMNT mengoperasikan tambang tembaga dan emas Batu Hijau di Kepulauan Sumbawa dengan luas tambang hingga 87.000 ha, dan pada tahun 2016 operasi tambang batu hijau telah berkontribusi dengan memproduksi 478 juta pon tembaga (copper) dan 801 ribu ons emas, meskipun bisnis tambang Medco belum berkontribusi positif pada Laporan Keuangan 9M17 namun penulis cukup yakin dengan membaiknya komoditas emas dan tembaga akan mengerek kinerja PT AMNT.

mEDCO1Kontribusi Bisnis Tambang Medco belum terlihat pada LK 9M17

Diversifikasi Bisnis – Ketenagalistrikan

Selain memiliki bisnis pertambangan, MEDC juga sudah lama menggeluti bisnis ketenagalistrikan dengan memiliki 49% saham PT Medco Power Indonesia (MPI) yang terus berkembang sejak didirikan tahun 2004 dan menjadi portfolio MEDC yang cukup baik. Hingga saat ini MPI sebagai produsen listrik independen, kontraktor jasa pengoperasian dan pemeliharaan serta kontraktor rekayasa, pengadaan & konstruksi.

Hingga tahun 2016 kinerja MPI mencatat produksi total sebesar 1.733 GW dari enam pembangkit listrik di Batam dan Sumatera Selatan. MPI juga memiliki bisnis Energiterbarukan dan Proyek Panas Bumi pada PLTPB Sarulla dengan total kapasitas 3 x 110 MW dimana unit 1 telah beroperasi secara komersil pada Maret 2017 dan sisanya di kuartal 4 2017 dan kuartal 1 2018. Hal ini sangat menarik karena entitas anak dari Medco ini baru akan mulai beroperasi secara komersil di tahun 2018 dan penulis berharap dapat berkontribusi positif terhadap kinerja perusahaan.

medco2Diversifikasi Bisnis PT MPI mencatatkan kinerja positif

MPI juga memiliki PLTPB Ijen dengan total kapasitas 2 x 55 MW dan telah menandatangani perjanjian jual beli listrik dengan PLN dengan target pengoperasian secara komersil pada tahun 2020, yang mana cukup menarik untuk penulis tunggu karena PLN sebagai provider jasa listrik mandatory di Indonesia.

Initial Public Offering – Saudi Aramco

Alasan lainnya mengapa penulis sangat yakin Medco akan terus melanjutkan tren naiknya ialah karena perusahaan minyak terbesar di dunia asal Arab Saudi yaitu Saudi Aramco akan melepaskan kepemilikan kepada publik pada tahun 2018 ini.

IPO ARAMCO
Sources: https://www.reuters.com/

Yang ingin penulis sampaikan atas rencana IPO-nya Saudi Aramco ini ialah momentum harga oil setidaknya akan dijaga agar tidak jatuh dibawah $60/barrel dan tentu hal ini positif bagi penjualan migas Medco dan korelasi positif terhadap kinerja perusahaan.

Kinerja 9M2017 Kinclong

Alasan utama mengapa penulis akan kembali mengakumulasi saham MEDC ialah kinerja 9M2017 perusahaan yang mengalami turnaround dari tahun sebelumnya di masa-masa sulit ketika harga minyak drop hingga $40/barrel. MEDC kembali membukukan laba bersih setelah merugi hingga 2 tahun terakhir dimana hal ini ditopang oleh membaiknya harga minyak dunia di kisaran $50/barrel sepanjang 2017 awal.

MEDCO3Penjualan Migas membaik pada 9M2017

Tercatat sales MEDC pada 9M2017 sebesar $597.528.500 atau naik sebanyak 52.64% year on year, diikuti oleh kenaikan gross profit sebesar $300.169.492 atau naik sebanyak 76.92% year on year. Hal ini tentu sangat baik karena kenaikan gross profit beriringan dengan naiknya sales pertanda bahwa gross profit yang dihasilkan adalah dari hasil bisnis utama Medco.

Laba bersih Medco pada 9M2017 juga membukukan kinerja yang KINCLONG sebesar $176.289.120 dibandingkan rugi perusahaan pada 9M2016 atau naik sebesar 247%. Situasi ini mirip-mirip dengan saham mining lainnya  yaitu Indika Energy yang mana setelah akuisisi Kideco, perusahaan membukukan laba bersih yang FANTASTIS dan sahamnya langsung meroket hingga +700%!

UntitledLaba Bersih MEDC naik 247% YoY

Ekspansi Bisnis skala Internasional

PT Medco Energi Internasional, Tbk selain melakukan aktivitas bisnis di dalam negeri, nampaknya juga sudah melebarkan sayap ke level internasional. Terbukti sejak tahun 2015 MEDC menandatangani Amended & Restated Karim Small Fields Service Aggrement yang memberikan kontrak jasa selama 25 tahun!! Atas eksplorasi dan pengeboran Migas di blok Karim Small Fields – Oman, dan sepanjang tahun 2016 MEDC telah melakukan pengeboran atas 33 sumur produksi dan 3 sumur eksplorasi. Tidak hanya di Oman, Medco juga bertindak sebagai Operator atas Blok Adam dan Blok Bir Ben Tartar di Tunisia yang merupakan produksi migas dan terdapat 10 sumur produksi di  Blok Adam dan 15 Sumur Produksi dan 1 Sumur untuk Injeksi air di Blok Bir Ten Tartar. Selain itu, terdapat juga aset pra-pengembangan di Luar Negeri lainnya yaitu blok Yasmin dan blok Cosmos di Tunisia yang diperkirakan memiliki cadangan minyak 3P sebesar 6,5juta barrel. Hal ini tentu sangat menarik mengingat kontrak yang dimiliki Medco cukup panjang diiringi membaiknya harga minyak dunia.

UntitledAktivitas Bisnis Medco di Luar Negeri

 

Manajemen yang Professional dan Powerful

Faktor yang terakhir menjadi salah satu alasan kuat penulis sangat senang membeli saham Medco, ialah karena jajaran board dihuni oleh orang-orang yang profesional dan ahli dibidangnya seperti CEO Roberto Lorato yang sudah berpuluh-puluh tahun di industri migas. Yang menjadi favorit penulis ialah Komisaris Utama dari PT Medco Energi Internasional, Tbk ialah Bapak Muhammad Lutfi. Penulis menaruh respect kepada beliau karena beliau adalah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang berhasil meraih predikat Young Global Leaders pada tahun 2008 oleh World Economic Forum, hal ini membuat Bapak Muhammad Lutfi sejajar dengan Executive kelas dunia seperti Larry Page (Google) dan lain lain.

Muhammad-Lutfi
Muhammad Lutfi, Komisaris Utama Medco Energi Internasional.

Pada Tahun 2005, disaat umurnya masih 36 tahun, beliau sudah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebuah jabatan tinggi negara setingkat menteri pada kabinet presiden SBY yang mana membuatnya menjadi orang termuda yang pernah menduduki posisi tersebut. Saat menjabat sebagai Kepala BKPM, beliau juga telah menciptakan inovasi layanan untuk mempermudah investor yakni Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Akibat dari inovasi tersebut Foreign Direct Investment Indonesia naik signifikan hingga diatas $50 miliar secara tahunan selama 6 tahun berturut-turut. Fantastis!

Agee Fonzi Miradz.

 Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan beli, melainkan hanya berupa berbagi informasi kepada pembaca. Segala keputusan Beli/Jual ada di tangan pembaca sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca tulisan ini.

Kuda Hitam itu bernama Tjiwi Kimia

Belum lama ini PT. Tjiwi Kimia, Tbk telah merilis laporan keuangan fullyear untuk tahun 2017 dan seperti kebanyakan investor lainnya hal ini tentu menjadi momen yang penulis tunggu-tunggu karena mayoritas portofolio penulis ada di emiten ini. Lalu hal-hal apa yang menarik pada laporan keuangan TKIM ini? Penulis akan coba membahas poin-poin krusial, so let’s check it out!

Sudah menjadi rahasia umum bahwa industri pulp and paper di Indonesia dikuasai oleh Asia Pulp and Paper yang mana entitas anaknya sudah melantai di bursa yaitu PT Indah Kiat Pulp & Paper, Tbk (INKP) dan PT Tjiwi Kimia, Tbk (TKIM) yang bahkan merupakan major player di skala internasional sejajar dengan perusahaan terkenal seperti Fibria dari Brazil, yang menariknya adalah proses recovery dari perusahaan INKP dan TKIM baru dimulai awal 2017 per hari ini (28/03/2018) harga saham INKP dihargai sebesar Rp 11.000/lembar dan TKIM sebesar Rp 6.800, harga tersebut sudah naik ratusan bahkan ribuan persen! Lalu apakah tren kenaikan INKP dan TKIM sudah patah? Apakah harga yang tercemin hari ini sudah price in dengan kinerjanya? Bagaimana mengukur peluang cuan dari Tjiwi Kimia? Mari kita bedah Laporan Keuangannya satu persatu.

Harga Pulp dan PT. OKI

Harga pulp dunia bullish dan hal ini sangat baik bagi kinerja laporan keuangan TKIM dalam menghasilkan laba, karena 92% penjualan TKIM ditopang oleh penjualan produk kertas, sisanya dari kertas industri, produk pengemas (packaging) dan lain-lain. Terbukti bahwa memang penjualan produk kertas yang sangat tergantung dari harga Pulp ini sangat membantu kinerja TKIM, per hari ini (28/03/2018) harga Pulp (BHKP) di sekitaran $1030. Tentunya kenaikan harga Pulp akan lebih terasa dengan meningkatnya produksi kertas, dan manajemen TKIM sangat jeli dalam hal ini.

a.png
TKIM membukukan EPS $0.0095 atau sekitar Rp 130.65/lembar

Terbukti sejak Tahun 2014 TKIM memiliki PT. OKI Pulp and Paper sebanyak 49% dimana PT. OKI Pulp & Paper memiliki pabrik dan infrastruktur baru di Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan, dengan aksi korporasi strategis ini, produksi kertas TKIM yang semula hanya 800.000 ton/tahun melonjak menjadi 2.800.000 ton/tahun ditambah 500.000 ton tisu sekedar informasi, total produksi TKIM ketika full capacity 100% akan setara dengan INKP. Tidak sampai disitu, nilai pabrik baru PT. OKI Pulp & Paper yang mencapai Rp 40 Triliun tersebut juga mendapat stimulus fiskal dari Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Pajak berupa tax holiday selama 8 tahun bebas pajak dan 2 tahun terakhir hanya membayar 50%. Sungguh kombinasi yang menarik kala harga pulp dunia bullish, produksi meningkat, dan mendapat stimulus fiskal yang kedepan akan mendongkrak laba bersih TKIM secara signifikan.

b.png
Kepemilikan TKIM di PT OKI Pulp & Paper sebesar 49.08%

Tercatat pada Tahun 2017 laba bersih PT OKI Pulp & Paper sebesar $89.284.000 dan laba yang dikonsolidasikan kepada TKIM ialah sebesar 49% atau sebesar $43.821.000 cukup menarik mengingat pabrik OKI yang baru beroperasi tahun 2017 awal.

c.png
Laba bersih dari PT OKI Pulp & Paper FY2017

kendati pada tahun 2017 pabrik hanya utilisasi 80% dari total kapasitas. Belum lagi saat bulan Desember seperti di lansir laman risiinfo bahwa pabrik OKI sempat shutdown karena dilakukan maintenance akibat turbine breakdown dimana hal ini sangat berdampak pada total produksi produk kertas dan tisu diakhir tahun yang tidak sesuai target dan dampaknya ialah rendahnya penjualan yang berujung pada menurunnya laba bersih TKIM.

d.png
sources:
https://www.risiinfo.com/industry-news/apps-oki-pulp-mill-running-again-but-only-at-60-65-capacity/

Hal tersebut juga yang digadang-gadang menjadi biang kerok jatuhnya kinerja Q4 TKIM walaupun secara YoY masih sangat bagus.

Kepemilikan Asuransi Sinarmas dan Momentum Pemilu

Alasan lainnya mengapa penulis mengatakan bahwa ada peluang besar di TKIM selain karena aksi korporasi yang menarik, adalah aksi akumulasi dari Asuransi Sinarmas pada saham TKIM ini. Tercatat bahwa kepemilikan PT Asuransi Simas Jiwa di TKIM sebesar 5.7% pada 31 Desember 2017. Namun pada 28 Februari 2018 Asuransi Simas kembali melakukan pembelian saham TKIM hingga kepemilikannya menjadi 6.7%, di hari yang bersamaan saham TKIM ditutup lompat +19.5%. Logikanya, Asuransi Simas bisa dikatakan insider di saham TKIM ini karena masih satu group dengan Sinarmas, kalau mereka saja berani akumulasi dalam jumlah besar, mengapa kita sebagai investor ritel justru ketakutan.

e.jpg
Kepemilikan PT Asuransi Simas Jaya di TKIM sebesar 6.7%

Membeli saham itu ibarat membeli bisnis, bisnis yang bagus ialah yang terus berkembang dimasa yang mendatang, hal itulah yang coba diterapkan Asuransi Simas pada pembelian TKIM, mereka sudah tau bahwa prospek TKIM sangat cerah kala akuisisi PT OKI Pulp & Paper selaku pemilik pabrik baru dengan kapasitas produksi kertas 2.000.000 ton/tahun dan tisu 500.000 ton/tahun. Di Tahun 2019 ketika pesta demokrasi 5 tahunan digelar di Indonesia dan pabrik PT OKI Pulp & Paper sudah running 100% capacity maka dapat dipastikan laba TKIM akan lebih baik lagi ditopang permintaan kertas yang meningkat yang akan mengerek penjualan TKIM.

Mengukur Peluang Cuan di TKIM

Setelah overview Laporan Keuangan TKIM secara singkat, kini saatnya penulis membedah apakah masih ada peluang cuan atau gain dari saham TKIM? Jawabannya ialah masih sangat ada! Penulis sangat yakin bahwa saham TKIM masih akan meneruskan tren kenaikan dengan catatan harga Pulp (BHKP) dijaga diatas $1000 dan pabrik PT OKI Pulp & Paper sudah full capacity 100% secara stabil mungkin di periode 9M2018 dan 3M2019 dampaknya akan tercermin di Laporan Keuangan TKIM. Secara valuasi, Price Earning Ratio (PER) TKIM saat ini adalah 53 dengan Price to Book Value (PBV) di 1.35 sedangkan INKP mempunyai PER 15 dengan PBV 1.3. Meski PER TKIM cukup tinggi dibanding INKP yang hanya 15, ini karena sahamnya sudah terbang lebih dahulu kala dampak dari PT OKI Pulp & Paper belum tercermin di Laporan Keuangan TKIM FY2017, lantas apakah peluang uptrend TKIM masih akan berlanjut? Masih, karena cuan dari PT OKI Pulp & Paper akan meningkatkan laba bersih TKIM yang nantinya akan menurunkan PER TKIM secara kuartalan.

Mari menghitung peluang TKIM secara komparasi dengan INKP

Kapitalisasi Pasar INKP saat ini ialah Rp 60.18 Triliun. Artinya 100% saham INKP dihargai Rp 60.18 Triliun, dengan harga saham Rp 11.000/lembar

Kapitalisasi Pasar TKIM saat ini ialah Rp 21.48 Triliun dengan harga saham Rp 6900/lembar

Penulis berharap Tahun 2018 PT OKI Pulp & Paper sudah produksi full capacity 100% yang mana total produksi output TKIM akan sejajar dengan INKP.

Kalau penulis mengharapkan cuan 100% dari TKIM, kapitalisasi pasar TKIM akan menjadi Rp 42.96 Triliun. Cukup logis dengan total produksi yang sama dengan INKP Kapitalisasi Pasar TKIM dihargai Rp 42.96 Triliun oleh pasar meskipun masih lebih rendah dari INKP.

Sedangkan, jikalau penulis mengharapkan cuan 100% dari INKP, maka kapitalisasi pasar INKP akan menjadi Rp 120.36 Triliun yang akan sejajar dengan perusahaan mapan seperti GGRM. Apakah cukup logis? Atau malah overshoot? Silahkan kalian nilai sendiri!

Kesimpulan penulis setelah membaca Laporan Keuangan TKIM FY2017 saham ini masih layak dikoleksi setidaknya sampai 3M2018 rilis untuk mengetahui kinerja dari TKIM. Karena menurut penulis saham ini merupakan kuda hitam di bursa, tidak diperhitungkan oleh orang banyak namun akan keluar menjadi pemenang di akhir pertandingan J

Agee Fonzi Miradz.

 

Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan beli, melainkan hanya berupa berbagi informasi kepada pembaca. Segala keputusan Beli/Jual ada di tangan pembaca sendiri. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh pembaca setelah membaca tulisan ini.